Harun ibn Muhammad Ibnu Abi Ja’far al-Manshur atau biasa dikenal dengan nama Harun Ar-Rasyid. Khalifah kelima dalam Dinasti Abbasiyah
ذكر الخطيب البغدادي في تاريخ بغداد: [وحكى بعض أصحابه أنه كان يصلي في كل يوم مئة ركعة إلى أن فارق الدنيا، إلا أن يعرض له علة، وكان يتصدق في كل يوم من صلب ماله بألف درهم، وكان إذا حج أحج معه مئة من الفقهاء وأبنائهم، وإذا لم يحج أحج في كل سنة ثلاثمئة رجل بالنفقة السابغة والكسوة الظاهرة].
Disebutkan oleh imam khatib al-baghdadi dalam sebuah riwayat: “disebutkan oleh sebagian sahabatnya bahwa Khalifah Harun Ar-Rasyid shalat 100 rakaat setiap hari sampai beliau wafat, kecuali jika beliau lagi sakit maka shalatnya berkurang, setiap hari sedekahnya 100 dirham (Sekitar 60 Juta Rupiah), dan jika musim haji beliau mengajak 100 ulama beserta anak-anaknya untuk berhaji bersamanya dan ditanggung dari dana pribadi, dan jika tahun itu beliau tidak haji maka menghajikan 300 orang
Imam Malik melihat Harun Ar-Rasyid duduk di atas kursi, lalu Imam Malik mengutip sabda Nabi Muhammad SAW:
من تواضع رفعه الله ومن تكبر وضعه الله
Artinya: “Barangsiapa yang tawadhu akan diangkat derajatnya oleh Allah.Dan barangsiapa yang takabur akan direndahkan derajatnya oleh Allah”. (HR. Abu Nu’aim)
Harun ar-Rasyid pernah berpesan kepada Ahmar, guru bagi putra mahkotanya, Abu Abdullah Muhammad al-Amin yang kelak menggantikan posisi khalifah sepeninggal Harun ar-Rasyid. Pesan yang disampaikan oleh Harun Ar-Rasyid itu mengandung konsep-konsep pendidikan karakter :
“يَا أَحْمَرُ، إِنَّ أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ قَدْ دَفَعَ إَلَيْكَ مُهْجَةَ نَفْسِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ،
“Wahai Ahmar, sesungguhnya Amirul Mukminin telah menyerahkan kepadamu belahan jiwanya dan buah hatinya.
فَصَيَّرَ يَدَكَ عَلَيْهِ مَبْسُوْطَةً،
Maka dia (Amirul Mukminin) memberikan kepadamu wewenang sepenuhnya,
وَطَاعَتُهُ لَكَ وَاجِبَةٌ؛
dan terhadap instruksinya (Amirul Mukminin) kamu wajib taat,
فَكُنْ لَهُ بِحَيْثُ وَضَعَكَ أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ:
maka posisikanlah dirimu untuknya sebagaimana yang diinstruksikan Amirul Mukminin!
أَقْرِئْهُ الْقُرْآنَ، وَعَرِّفْهً الْأَخْبَارَ، وَرَوِّهِ الْأَشْعَارَ، وَعَلِّمْهُ السُنَنَ، وَبَصِّرْهُ بِمَوَاقِعِ الْكَلاَمِ وَبَدْئِهِ، وَامْنَعْهُ مِنَ الضَحِكِ إِلَّا فِيْ أَوْقَاتِهِ،
Bacakan untuknya al Quran, ajarkan sejarah, untaikan syair-syair dan ajarkan sunnah. Buatlah ia mampu mengetahui posisi pembicaraan dan permulaannya. Laranglah ia tertawa kecuali pada waktunya.
وَخُذْهُ بِتَعْظِيْمِ مَشَايِخِ بَنِي هَاشِمٍ إِذَا دَخَلُوْا عَلَيْهِ، وَرَفْعِ مَجَالِسِ الْقُوَّادِ إِذَا حَضَرُوْا مَجْلِسَهُ.
Biasakanlah ia untuk mengagungkan masyayikh Bani Hasyim jika mereka datang kepadanya dan meninggikan majlis para pemimpin jika mereka datang ke majlisnya.
*Mengajarkan tatakrama terhadap orang yang lebih tua
وَلَا تَمُرَّنَّ بِكَ سَاعَةٌ إِلَّا وَأَنْتَ مُغْتَنِمٌ فَائِدَةً تُفِيْدُهُ إِيَّاهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ تُحْزِنَهُ فَتُمِيْتَ ذِهْنُهُ.
Jangan sampai ada waktu yang berlalu padamu kecuali kamu telah memberikan faedah baginya tanpa harus membuatnya sedih yang akan mematikan otaknya.
وَلَا تُمْعِنْ فِيْ مُسَامَحَتِهِ فَيِسْتَحْلِيَ الْفَرَاغَ وَيَأْلَفَهُ.
Jangan menjauh di waktu lapangnya, sehingga dia merasakan manisnya waktu kosong dan membuatnya terbiasa dengannya.
وَقَوِّمْهُ مَا اسْتَطَعْتَ بِالْقُرْبِ وَالْمُلِايَنَةِ،
Luruskan ia semampumu dengan cara mendekat dan lembut.
فَإِنْ أَبَاهُمَا فَعَلَيْكَ بِالشِّدَّةِ وَالْغِلْظَةِ”.
Jika dengan dua cara itu dia tetap tidak baik maka gunakan cara yang keras.”
Sebuah pesan yang menuai konsep besar dalam mendidik, didalamnya terdapat beberapa konsep penting mengenai pendidikan karakter, diantaranya :
- Pentingnya kesiapan seorang guru dan keteladanan
Peran guru sangatlah penting, karena guru merupakan sumber ilmu pengetahuan yang diharapkan bisa mentransfer ilmu kepada peserta didik. Jika penguasaan bahan ajar tidak benar-benar dilakukan oleh guru, maka proses transfer ilmu pengetahuan pun tidak akan berjalan maksimal. Guru juga perlu menjaga amanah yang diberikan dengan menunjukkan kualifikasi memadai, seperti cerdas secara akademik, dan unggul dalam perilakunya, sehingga ia memiliki kecerdasan moral yang dapat dijadikan teladan bagi peserta didiknya. - Pentingnya Tahapan dalam mengajarkan ilmi, dengan berurutan
Harun Ar-Rasyid menyampaikan kurikulum urutan pengajaran. Jadi usahakan jangan menyampaikan yang lain sebelum urutan di atas sampai kepada peserta didik. Mengajarkan al-Quran, Mengajarkan sejarah, Mengajarkan Sunnah, dan seterusnya. - Menanamkan anak terhadap ketaatan kepada guru
Poin ini adalah bagian penting dari konsep pendidikan Islam, yaitu melatih taat dan penuh adab terhadap guru atau pendidik. - Konsep Belajar tidak Sambil Bermain
Harun Ar-Rasyid menyampaikan nasehat kepadanya (Al Ahmar) agar bisa mengatur kondisi belajar dan bermain. Karena keduanya tidak bisa disatukan. Bermain tidak bisa dicampur dengan keseriusan berilmu. Jika membuat jadwal, tentukan kapan bermain dan kapan belajar. Jika berbicara ajari posisi pembicaraannya. Jika tertawa, ingatkan untuk tidak berlebihan. - Mengajarkan Tentang Dsisplin Terhadap Waktu
Pesan yang kelima ini mengajarkan tentang pentingnya mengoptimalkan waktu. Disiplin terhadap waktu yang sudah disepakati dan berikan kenyamanan saat slhare faedah ilmu tanpa harus memperbesar tekanan yang menyebabkan peserta didik bersedih, hiburlah saat sedih, agar tidak mematikan otak berfikirnya. Poin ini juga secara tidak langsung menunjukkan agar guru tidak melakukan bullying terhadap peserta didik, juga bully terhadap sesama guru baik verbal ataupun non verbal. - Menemani peserta didik dalam mengisi waktu luang
Pada poin ini, adalah pentingnya mengisi waktu luang peserta didik dengan kegiatan yang bermanfaat baik bagi diri sendiri ataupun untuk orang lain, dan pentingnya pendampingan agar suasana kondusif. - Mengurangi tertawa
Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. disebutkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَأْخُذُ عَنِّي هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ فَيَعْمَلُ بِهِنَّ أَوْ يُعَلِّمُ مَنْ يَعْمَلُ بِهِنَّ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَقُلْتُ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَأَخَذَ بِيَدِي فَعَدَّ خَمْسًا وَقَالَ اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ وَأَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُسْلِمًا وَلَا تُكْثِرْ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ
“Siapa yang mau mengambil kalimat-kalimat itu dariku lalu mengamalkannya atau mengajarkan pada orang yang mengamalkannya?” Abu Hurairah menjawab: Saya, wahai Rasulullah. beliau meraih tanganku lalu menyebut lima hal; jagalah dirimu dari keharaman-keharaman niscaya kamu menjadi orang yang paling ahli ibadah, terimalah pemberian Allah dengan rela niscaya kau menjadi orang terkaya, berbuat baiklah terhadap tetanggamu niscaya kamu menjadi orang mu`min, cintailah untuk sesama seperti yang kau cintai untuk dirimu sendiri niscaya kau menjadi orang muslim, jangan sering tertawa karena seringnya tertawa itu mematikan hati.” [HR. Tirmidzi: 2227]
Banyak tertawa menyebabkan seseorang kehilangan kepekaan dalam menyikapi keadaan. Padahal kepekaan merupakan syarat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin agar bisa melihat berbagai permasalahan yang terjadi dari berbagai sudut pandang, sehingga keputusan yang dibuat untuk menyelesaikan masalah dapat diterima oleh semua pihak.
- Mengajar dengan sikap tegas
Memperbaiki anak dengan cara pendekatan dan lembut adalah cara terbaik, namun gunakanlah kekerasan saat kedua konsep tersebut tidak berfungsi. Supaya tidak salah faham dalam memaknai kekerasan, maka diperlukan komunikasi yang intens dengan dengan orang tua peserta didik. Karena, banyak orang tua pada sekarang ini menyikapi pemberian hukuman kepada peserta didik sebagai kejahatan pidana, tanpa melihat bahwa di suatu instansi pendidikan ada tata tertib dan kode etik yang berlaku.